Sebegitu menakutkan kah yang namanya Ujian Nasional??
Wajar pertanyaan ku ini muncul. Atau mungkin semua mempertanyakan itu?
Hahhh...miris melihat itu. Semua menjadi momok menakutkan. Hidup seolah menjadi momok, tidak bisa dinikmati. Mau keluar malam takut geng motor, naik pesawat takut jatuh, naik bus takut kecelakaan, dan ketakutan-ketakutan lain semacam UN ini.
Lihat saja, H-1 pelaksanaan UN sudah seperti esoknya adalah kiamat. Sebuah tayangan di stasiun tv nasional pada kamis (19/4/2012) menguak itu.
Ada ritual-ritual yang menurut saya aneh. Ritual yang selalu dihubung-hubungkan dengan Tuhan. Sehari sebelum UN, sekolah ramai-ramai membuat istighosah, doa berjemaah agar semua murid lulus. Tidak ada yang salah, tapi bukankah ini instan? Model SKS (Sistem Kebut Semalam) ini yang sering digunakan yang membuat mental anak didik menjadi instan. Tidak diajarkan pada sebuah proses, tetapi model pendidikan yang cepat saji.
Kiranya, pendidikan bukan sekedar upaya mencapai selembar kertas yang dinamakan ijazah. Tetapi, perilaku dan kedewasaan diri harus dibangun. Pendidikan yang saya tahu, tidak sekedar guru atau pendidik menerangkan ilmu di dalam kelas. Tapi pendidik itu bisa menjadi pihak yang memberi pengaruh pada anak didiknya, bukan hanya kemampuan secara keilmuan tetapi kemampuan secara kepribadian. Banyak orang pintar tetapi pribadinya tidak 'pintar'.
Lihat saja, contoh kemarin di Jakarta. Setelah UN, mereka malah tawuran. Saya yakin, diantara mereka yang tawuran bahkan mungkin semuanya, juga sebelum UN mungin ikut nangis-nangisan meminta kepada-Nya agar diluluskan. Mungkin mereka yang tawuran ini juga adalah mereka yang seperti di atas.
So, sesuatu yang instan tidak akan bertahan lama. Karena tidak terpatri di dalam jiwa dan hati anak didik. Akankah kita tetap bertahan dengan model seperti ini? Wallahualam...



