Untuk info dan iklan, bisa juga menghubungi saya di 081333718787 atau email: agusmbojo@gmail.com

Recent Posts

Recent Post

Subscribe

TemplateGoal

Labels

Jejak Pengunjung

UN...Ih Ngeri-Ngeri Sedap Tuh Barang

Kamis, 19 April 2012

Sebegitu menakutkan kah yang namanya Ujian Nasional??

Wajar pertanyaan ku ini muncul. Atau mungkin semua mempertanyakan itu?

Hahhh...miris melihat itu. Semua menjadi momok menakutkan. Hidup seolah menjadi momok, tidak bisa dinikmati. Mau keluar malam takut geng motor, naik pesawat takut jatuh, naik bus takut kecelakaan, dan ketakutan-ketakutan lain semacam UN ini.

Lihat saja, H-1 pelaksanaan UN sudah seperti esoknya adalah kiamat. Sebuah tayangan di stasiun tv nasional pada kamis (19/4/2012) menguak itu.

Ada ritual-ritual yang menurut saya aneh. Ritual yang selalu dihubung-hubungkan dengan Tuhan. Sehari sebelum UN, sekolah ramai-ramai membuat istighosah, doa berjemaah agar semua murid lulus. Tidak ada yang salah, tapi bukankah ini instan? Model SKS (Sistem Kebut Semalam) ini yang sering digunakan yang membuat mental anak didik menjadi instan. Tidak diajarkan pada sebuah proses, tetapi model pendidikan yang cepat saji.

Terlihat aneh, ketika siswa-siswi datang ke sebuah makam orang yang berjuang demi tegaknya agama. Penuturan tv nasional tersebut, para siswa-siswi ini datang berdoa di depan makam seorang Sunan memohon kepada Tuhan agar mereka lulus UN. Memohon pada Tuhan tetapi melalui perantara sang Sunan...Hah? Seperti itukah? Inikah pendidikan yang diberikan? Bukankah berdoa di mana saja itu pasti Tuhan dengar? Lalu kenapa harus melalui perantara? Seingat saya, dalam pelajaran agama di sekolah sejak SD-SMP hingga SMA, diajarkan pendidikan agama. Tidak boleh menyekutukan-Nya. 'Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaumnya kalau kaumnya itu tidak merubah sendiri'. Kan itu yang diajarkan? Kenapa sekarang malah cara yang instan?

Kiranya, pendidikan bukan sekedar upaya mencapai selembar kertas yang dinamakan ijazah. Tetapi, perilaku dan kedewasaan diri harus dibangun. Pendidikan yang saya tahu, tidak sekedar guru atau pendidik menerangkan ilmu di dalam kelas. Tapi pendidik itu bisa menjadi pihak yang memberi pengaruh pada anak didiknya, bukan hanya kemampuan secara keilmuan tetapi kemampuan secara kepribadian. Banyak orang pintar tetapi pribadinya tidak 'pintar'.

Lihat saja, contoh kemarin di Jakarta. Setelah UN, mereka malah tawuran. Saya yakin, diantara mereka yang tawuran bahkan mungkin semuanya, juga sebelum UN mungin ikut nangis-nangisan meminta kepada-Nya agar diluluskan. Mungkin mereka yang tawuran ini juga adalah mereka yang seperti di atas.

So, sesuatu yang instan tidak akan bertahan lama. Karena tidak terpatri di dalam jiwa dan hati anak didik. Akankah kita tetap bertahan dengan model seperti ini? Wallahualam...


Depok, 19 april 2012

#PerjalananTanpaArah# ke Bandung; Rasa Nano-Nano

Minggu, 25 Maret 2012

“Iya jadi. Kita ngumpul di gambir jam 8.30”.... Itu isi pesan BlackBerry Massenger Asred Metropolitan inilahdotcom, Bayu, pada sabtu (24/3/2012). Saat itu, saya masih berkutat di kantor karena menjalankan tugas mulai piket malam seminggu, dan sabtu adalah hari terakhir.

Begitu juga dengan Asred hukum inilahdotcom, Mevi. Pada waktu pesan diterima dari Bayu, jam sudah pukul 08.00 pagi. Wooowww Cuma ada setengah jam sisanya, belum dihitung perjanalan dari rimba buntu (kantor inilahdotcom) menuju stasiun Gambir di kawasan Monas.

Oh ya, saya Agus, masih status reporter. Jabatannya masih di bawah kedua senior saya di atas, Bayu dan Mevi, yang sudah naik satu trip menjadi Asred alias asisten redaktur.

Oke, kembali ke cerita. Sebelumnya sih, sebelum perintah dari ‘beliau’ (begitu saya dan Mevi menyebut Bayu ketika itu) datang, kita sempat berkomunikasi. Apakah jadi perjalanan ini? Akhirnya sepakat mengirim pesan BlackBerry Masenger bersamaan ke ‘beliau’ yang masih asyik tidur. Dan seketika, dapat pesan itu. Begitulah instruksi ‘beliau’.

Kerja Jurnalis Melupakan Dirinya (?)

Minggu, 25 September 2011

Semasa SMP, pasti yang dipikirkan adalah bagaimana nanti saya SMA. Jelang tamat SMA, akan berpikir bagaimana biaya kuliah, kemana saya akan kuliah dan akan mengambil jurusan apa saya kuliah.
Oke, itu semua sudah berlalu. Kini aku sudah menempuh tahap menjadi seorang jurnalis. Tapi bukan berarti itu lepas dari tahapan selanjutnya. Tentu yang menjadi pertanyaan besar adalah "Kapan nikah?". Beberapa rekan bahkan sering ngejek dengan bilang "Emang sudah ada calonnya? Emang ada yang suka?,"....

Kadang memilih untuk cuek tapi kadang juga menjadi beban bagi ku. Tentu semua orang yang notabene sudah bisa menghasilkan penghasilan pasti ingin bersanding di pelaminan. Entah aku orang peragu untuk mengambil resiko besar atau tidak, tetapi menjadi beban tersendiri dalam diri ku. Kadang berpikir untuk mencari sosok perempuan yang akan diajak untuk menikah...

Hemmmm...aku realistis. Beban kerja setidaknya turut 'ikut andil'. Kerja dengan tekanan tinggi sebagai jurnalis online (deadline tanpa batas), membuat sebagian besar waktu terkuras habis. Dalam 1 minggu hanya libur 1 hari (kadang2 2 hari), atau izin sakit (sebenarnya pengen istrahat). Itupun dihabiskan untuk bermanja-manja di atas tempat tidur atau depan televisi.

Teman-teman juga menyadari hal itu. Bahkan, ada pemahaman bahwa profesi jurnalis justru meninggalkan kehidupan sosial di sekitar tempat dia tinggal. Logis, karena berangkat kerja ketika pagi atau menuju siang (jam 8 hingga 9-an). Dan pulang larut, bahkan tengah malam jika ada kejadian yang mengharuskan kita melakukan kegiatan jurnalistik.

So....apapun alasan di atas, tentu sebagai bahan pertimbangan. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Tinggal, manajemen waktu saja. Itu yang belum saya miliki.

Jakarta, Minggu (25/9/2011)

Inilah 10 Komitmen Sentul Partai Demokrat

Senin, 25 Juli 2011

Agus Rahmat
Bogor - Hasil Rakornas Partai Demokrat (PD) merumuskan 10 rekomendasi. Rekomendasi ini diberi nama 10 komitmen sentul.
Inilah 10 Komitmen Sentul yang dibacakan oleh Wakil Ketua DPP PD Jhonny Allen Marbun dalam penutupan Rakornas di Sentul International Convention Center (SICC) Bogor Jawa Barat,Minggu (24/7/2011) :

1. Partai Demokrat harus meneguhkan jati diri sebagai partai tengah, nasionalis, religius, reformis dan memegang etika politik bersih, cerdas dan santun.

2. Partai Demokrat harus terus konsentrasi melakukan konsolidasi internal. 

3. Partai Demokrat harus terus melakukan koreksi, perbaikan dan penyempurnaan atas berbagai kekurangan yang ada, dan bekerja keras membangun Partai Demokrat yang modern, kuat dan dicintai rakyat.

4. Partai Demokrat harus memperkuat kaderisasi sebagai mata air sumber daya manusia yang berkualitas untuk kemajuan partai, kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat.

5. Parta Demokrat harus semakin meningkatkan keberhasilan dalam pemilukada untuk menyejahterakan rakyat di daerah.

6. Partai Demokrat harus terus meningkatkan pengelolaan partai berdasarkan hasil kongres di Bandung.

7. Partai Demokrat harus semakin mampu menjalankan komunikasi yang cerdas, dan menyambung dengan aspirasi rakyat.

8. Partai Demokrat menegakkan disiplin kader, dan sinergi kerja seluruh kader.

9. Para kader Partai Demokrat yang bertugas di DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD kabupaten/kota harus semakin mampu menjalankan tugas di parlemen dan daerah pemilihan masing-masing.

10. Para kader Demokrat harus konsisten dan disiplin menjalankan fungsi partai yang mendukung pemerintahan yang baik.

Balada Kebingungan Patrialis Akbar 'Diserang' Yusril

Senin, 27 Juni 2011

Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar
JAKARTA - Bagaimana jadinya jika seorang Menteri bingung menghadapi serangan pihak lain? Itulah yang dialami oleh Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar. Mendapat serangan dari Yusril Ihza Mahendra atas perpanjangan pencekalan dirinya, Patrialis terlihat tak ubahnya bukan seorang Menteri. Yusril mempermasalahkan digunakannya UU No.9 tahun 1992 yang sudah tidak berlaku untuk pencekalan terhadap dirinya. Sebab UU tersebut sudah diganti dengan UU No.6 tahun 2011.
Masa tahanan pun dianggap janggal karena berlaku 1 tahun, sementara seharusnya 6 bulan.
Menjawab serangan ini, Menkumham Patrialis Akbar dibuat bingung. Seusai raker dengan Komisi III DPR, Senin (27/6/2011), Patrialis langsung 'diserbu' wartawan.

Anekdot Penghasilan Jurnalis

Kamis, 16 Juni 2011

Jurnalis, entah mau dibilang sebagai buruh atau kuli (padahal sama aja yah…), adalah pekerja professional. Setiap pekerjaan, masalah penghasilan alias gaji adalah hal yang tidak pernah habis untuk dibahas. Gimana tidak, lha wong anggota DPR aja yang penghasilan sebagai anggota sudah banyak gitu masih aja mempermasalahkan gajinya. Buktinya kan seperti korupsi dan sejenisnya. Pejabat Negara juga demikian lah lagaknya.

Nah, kalau yang ini, tentang jurnalis. Mungkin karena saat ini saya juga berprofesi sebagai jurnalis (belum tahu masa depan seperti apa). Mulai membahas satu persatu:
Wartawan Balaikota DKI bertandang ke rumah dinas Gubernur DKI Fauzi Bowo


DPR Sok Tahu Masalah MK


JAKARTA – Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi (MK) No.24 tahun 2003, dinilai janggal. Bahkan, mantan Ketua MK Jimly Asshidiqie menilai DPR terlalu gegabah mengambil keputusan. Apalagi, dirinya yang adalah penggagas UU MK dan orang pertama yang membuat buku tentang MK, tidak pernah dilibatkan.
Bahkan, dengan sedikit menyindir, Jimly malah heran kenapa dirinya justru diundang untuk memberikan masukan terkait UU Pembalakan Liar. Jimly ‘menceramahi’ DPR terkait dengan bagaimana sebenarnya ultra petita yang sekarang dipermasalahkan oleh DPR. Berikut petikan wawancara lengkap dengan Jimly Asshidiqie saat di DPR, Kamis (16/6/2011).
Bagaimana sebenarnya pandangan anda tentang revisi UU MK yang sudah disahkan di Badan Legislasi (Baleg) DPR?

Saya nggak mengerti ya, kok siapa yang merumuskan itu. Saya tunggu ditelepon tapi tidak pernah ada. Masa urusan pembalakan liar saya ditelepon kok tentang MK tidak sama sekali.
Saya dengar mereka sudah melakukan stud banding. Saya kan 5 tahun jadi ketua MK, saya yang merumuskan Undang-undang MK, saya juga ikut merumuskan UUD mengenai MK dan waktu itu buku tentang MK itu tidak ada di Indonesia kecuali buku saya. Lalu selama di MK saya sudah menulis 15 buku tentang MK, kok mereka tidak menelepon saya, malah menelepon urusan pembalakan liar yang sudah saya tolak karena bukan bidang saya tapi saya paksa juga. Tentu saya tidak mengerti apa itu isi rancangan undang-undang itu, kalau saya dengar banyak ngawurnya

(Susahnya) Menjadi Jurnalis Online

Selasa, 14 Juni 2011

John Naisbitt pernah memprediksi bahwa perkembangan teknologi informasi akan meningkat pesat. Bahkan, jauh lebih cepat dari peralihan masa-masa sebelumnya.

Jurnalis. Jika dulu orang familiar menyebut jurnalis cetak dan televisi, sekarang ada tambahan. Tentu jurnalis online. Kebutuhan informasi yang cepat, membuat online menjadi pilihan utama. Tidak hanya itu, perkembangan teknologi seperti HP juga mempengaruhi keberadaan media online ini.

Masyarakat dengan tingkat kesibukan yang luar biasa seperti di Jakarta, menjadikan waktu semakin sempit untuk sekedar membaca koran. Praktis, media online lah yang menjadi panduan. Sebab, dapat diakses dimana saja dan kapan saja tanpa harus kerepotan menenteng lembar demi lembar yang tebal dari cetakan koran atau majalah. Update informasinya juga lebih cepat karena hampir dalam hitungan menit selalu saja ada berita. Ada isu-isu baru. Ada informasi baru. Masyarakat dimanjakan dengan informasi. Tidak salah memang jika kemudian disebut abad informasi.